Telinga Mampet

Judul yang aneh.

Alkisah, sekitar lebih dari sebulan lalu mendadak saya terserang penyakit pilek atau flu. Tiada hal yang dirasa aneh, karena pilek termasuk penyakit yang umum diderita dan biasa sembuh dengan sendirinya. Biasanya sih karena pola makan yang tidak teratur, hingga membuat daya tahan tubuh ini menurun. Dan seiring cuaca yang tidak menentu, akhirnya tubuh tidak kuasa menahan serangan virus flu ini. Dan biasanya pula, saya hanya perlu memperbanyak asupan makanan dan penyakit ini pun pergi dengan sendirinya.

Namun kali ini berbeda. Sakitnya sampai tiga hari; hari pertama mulai ambruk, hari kedua hanya bisa terbaring dan hari ketiga baru bisa bangun dan memulai masa penyembuhan.
Hari keempat, saya memaksakan kembali untuk beraktifitas seperti biasanya walau masih ada yang mengganggu dalam tubuh ini; yakni telinga kiri tersumbat seakan ada cairan yang menutupi lubang telinga.

Mulanya saya tidak menganggap serius gangguan di telinga ini. Ya, biasalah jika terkena pilek, hidung mampet, dahak menutupi tenggorokan, dan saya beranggapan mungkin telinga kiri yang agak budeg ini juga masih bagian dari penyakit pilek yang diderita. Jadi jika telah benar-benar sembuh dari pileknya dan telinga pun akan sembuh seperti sedia kala.

Ternyata saya salah. Tiga hari kemudian, pilek sudah tidak lagi terasa di tubuh, namun telinga kiri ini tetap tersumbat. Sangat mengganggu. Tidur tidak nyenyak dan sering kali terbangun di tengah malam, jalan agak limbung, komunikasi pun terganggu.

Esoknya, siang selepas jam sekolah saya langsung menuju dokter praktek di kampung sebelah. Sialnya ternyata sang dokter sedang pulang kampung dan baru akan pulang lusa. Mau ke Puskesmas pun pastinya telah tutup.

Esoknya lagi, setelah sebentar masuk sekolah sekedar untuk meminta izin, saya pun langsung menuju ke Puskesmas desa. Sengaja memilih Puskesmas ini karena fasilitas kesehatan yang tertera dalam BPJS yang dimiliki ya di Puskesmas ini.
Walau datang sekitar jam delapan, ternyata saya termasuk yang awal datang dan dokternya pun belum tiba. Maklumlah, this is Indonesia…
Sekitar satu jam kemudian, tibalah giliran untuk diperiksa. Well, mungkin tepatnya diwawancara. Karena dokternya hanya bertanya mengenai apa yang dirasakan dan kemudian menuliskan resep untuk ditukar dengan obat di bagian pengambilan obat.
Rupanya, karena saya keluhkan telinga tersumbat, dokter pun meresepkan obat tetes telinga. Yang ternyata persediaannya sedang kosong.
Tidak ada penjelasan apapun dari sang dokter mengenai keluhan telinga mampet ini. Saya hanya diberi obat vitamin B complex, antibiotik (kalau ga salah ingat, namanya Amoxilin) dan obat satunya lagi yang tidak bermerek. Sementara obat tetes telinga diminta untuk membeli di apotik. Itu pun tidak dibekali nama atau merek.

Sepulang dari Puskesmas kembali ke sekolah. Dan seusai jam sekolah langsung menuju pasar kecamatan untuk membeli obat tetes telinga di apotik. Di apotik pun ditanya;
“Obat tetes telinga apa pak?”
“Wah, nggak tahu ya. Tadi dari Puskesmas, cuma obat tetes telinganya lagi kosong.”
“Memangnya telinganya kenapa pak?”
“Mampet mbak.”

Dan pelayan apotik (tampaknya bukan apoteker) itu pun menyodorkan sebuah obat. Mereknya Forumen. Setelah saya googling, rupanya Forumen ini berguna untuk melunakkan serumen (lilin yang dihasilkan telinga untuk menjerat kotoran yang masuk). Sebenarnya rada ragu jika ini obat tetes yang tepat, karena sebelumnya telah mencoba membersihkan telinga menggunakan cotton bud dan sendok pengeruk kotoran, dan hasilnya tidak ada kotoran didapat. Namun apalah yang saya ketahui mengenai kesehatan telinga, jadi setiba di rumah obat tetes ini pun langsung dicoba.
Hasilnya? Nihil. Cairan obat tetes serasa mengambang di luar lubang telinga dan tidak masuk ke dalam. Obatnya sendiri, terutama antibiotik tidak diminum. Agak takut untuk minum antibiotik jika tidak terpaksa, dan melihat cara pengobatan dokter di Puskesmas tadi, sepertinya antibiotik ini belum tentu saya butuhkan.
Malamnya kembali mencoba Forumen ini, dan hasilnya tetap sama seperti sebelumnya.

Keesokan hari, telinga kiri masih tetap seakan tersumbat malah terasa kian payah. Akhirnya, usai jam sekolah saya langsung cabut menuju rumah sakit terdekat yang memiliki layanan dokter THT. Setiba di rumah sakit, langsung mendaftar dan masih sempat mendapat antrian walau pada urutan terakhir. Kali ini tidak menggunakan BPJS karena tidak sempat mengurus rujukan dari Puskesmas (fasilitas kesehatan–faskes– sesuai yang tertera di kartu BPJS). Dan sepertinya pihak faskes tidak akan melayani permintaan rujukan jika merasa masih bisa mengupayakan pengobatan. Entahlah.

Singkat cerita, mendaftar sekitar pukul 14.30 dan mendapat pengobatan sekitar pukul 18.30. Setelah saya menjelaskan apa yang diderita, dokter pun melakukan irigasi menggunakan cairan yang disuntikkan ke dalam lubang telinga dan kemudian cairan tersebut disedot menggunakan alat hisap. Jika tidak salah ingat, sekitar dua kali lubang telinga kiri ini disemprot cairan. Selepas irigasi telinga, kini giliran lubang hidung yang disemprot cairan. Cairan ini berasa asin. Dan setelah melihat kuitansi pembayaran, ternyata cairan ini memang air garam (NaCl).

Tapi, kok telinga ini masih terasa mampet?
Setelah ditanyakan ke dokter, ternyata telinga ini terasa seakan tersumbat karena ada cairan di telinga bagian dalam yang menekan gendang telinga. Dan karena cairan ini berada di bagian dalam gendang telinga, maka tidak bisa disedot keluar. Normalnya cairan ini akan mengering dengan sendirinya. Jadi, yang sang dokter bisa lakukan hanya memberi obat untuk menekan atau menyembuhkan peradangan di tenggorokan dan telinga untuk membantu mempercepat pengeringan cairan tersebut.
Wah, jadi percuma dong berobat ke dokter THT kalau memang hanya bisa menunggu sembuh dengan sendirinya…

Ya sudah. Akhirnya ke kasir untuk membayar. Biayanya 436 ribu. Lumayan wow.
Rinciannya: 20 ribu untuk pendaftaran, 115 ribu untuk pemeriksaan dokter, 70 ribu untuk jasa tindakan dokter, 70 ribu untuk dua ampul cairan NaCl 100 ml Sanbe 60’s, 60 ribu untuk 20 tablet Sanexon 100’s, 71 ribu untuk 10 kapsul Aldisa SR dan 30 ribu untuk fasilitas lain-lain.

Selanjutnya pergi ke bagian obat untuk mengambil obat. Dari tiga obat yang tertera di kuitansi pembayaran, ternyata hanya dua yang bisa diambil; yakni Sanexon dan Aldisa SR, karena NaCl rupanya adalah cairan yang tadi digunakan untuk perlakuan irigasi. Dari hasil pencarian di internet, diketahui bahwasanya Sanexon dan Aldisa SR adalah obat untuk mengobati radang di sekitar saluran pernafasan (tenggorokan).

Akhirnya, setengah delapan malam keluar dari rumah sakit untuk pulang. Walau telinga masih terasa tersumbat, namun rasanya agak nyaman setelah tadi mendapat irigasi. Namun ya terasa mengganjal saja di hati, habis 400 ribuan hanya untuk dibersihkan telinga.
Sialnya lagi, lampu depan motor ternyata putus, jadinya sepanjang jalan pulang tanpa lampu depan. Untung lampu sein dan lampu senja masih menyala, dibantu penerangan dari pinggir jalan dan dari kendaraan lain, perjalanan pulang ini tidak terlalu menyiksa. Namun itu hanya di awal, karena untuk menuju rumah mesti juga melewati gunung (sebenarnya bukit) yang tidak ada rumah dan penerangan jalan, jadi ya agak khawatir terperosok lubang atau ditubruk pengendara lain.
Alhamdulillah, akhirnya tiba di rumah dengan selamat.

Akhir cerita, telinga kiri berangsur sembuh. Sampai akhirnya sekitar 3 minggu kemudian terasa normal seperti sedia kala. Jadi, kalau dihitung-hitung, sekitar 4 minggu telinga ini terasa tersumbat.
Dan penyebabnya karena pilek, sebuah penyakit yang biasanya saya anggap remeh. Namun dalam kasus pilek yang dialami ini, cairan dari saluran pernafasan naik ke telinga bagian tengah melalui tabung eustachian dan menggenang di sana menekan gendang telinga. Normalnya cairan ini akan mengering dengan sendirinya, namun ya butuh waktu.

Demikian sekilas pengalaman telinga kiri saya yang menjadi budeg, semoga ada manfaat yang bisa dipetik oleh segenap pembaca.