Mengatrol Nilai Secara Adil

Teorinya, ketika peserta didik (PD) gagal mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan, maka tugas seorang pendidik adalah memberinya remedial dan tindak lanjut lain agar si peserta didik mengalami perbaikan.

Prakteknya? Well, who am I to judge?
Ada beragam variabel (atau mungkin sekedar 1001 alasan, alias ngeles) yang membuat seorang pendidik tidak memberikan perlakuan lanjutan kepada PD yang tidak mencapai KKM dan akhirnya repot sendiri karena mendapati nilai yang tidak memenuhi syarat.

What to do? Remedial susulan? Bagus, tapi sepertinya merepotkan.
Is there an easier way? Bagaimana jika katrol saja nilainya?
Wut? …

Saya tidak akan berpolemik mengenai katrol-mengatrol atau dongkrak-mendongkrak nilai, 2complicated4me. Di artikel ini hanya akan menjabarkan salah satu cara untuk mengatrol nilai secara ilmiah dan adil. O ya, cara ini saya dapatkan dari blog seorang rekan di Telegram dan tanpa malu akan saya sadur di sini.

Baiklah kita akhiri mukadimahnya.
Dimisalkan ada lima orang PD dalam tabel spreadsheet A1:C5.
Kolom A adalah nama PD.
Kolom B adalah perolehan nilai asli.
Kolom C adalah nilai hasil “katrol”.

.ABC
1Den Endul2070
2Iteung6584
3Kabayan8088
4Lamsijan4578
5Umar Bakri8590
6
7MAX85
8MIN20
9KKM70
10LIMIT90
11A0,31
12B64

Isikan formula pada:

  • Sel B7 untuk nilai terbesar dari seluruh PD.

    =MAX(B1:B5)
    
  • Sel B8 untuk nilai terkecil dari seluruh PD.

    =MIN(B1:B5)
    
  • Sel B9 adalah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal. Ini akan menjadi nilai batas bawah.

  • Sel B10 adalah nilai tertinggi setelah dikatrol. Ini akan menjadi nilai batas atas.

  • Sel B11 untuk tetapan A yang kemudian akan dikalikan dengan nilai MAX.

    =(B10-B9)/(B7-B8)
    
  • Sel B12 untuk tetapan B yang nantinya akan ditambahkan dengan A.

    =B10-(B7*B11)
    
  • Sel C1:C5 untuk nilai hasil katrol. Isikan formula berikut pada sel C1:

    =C1*B$11+B$12
    

    Kemudian salin C1 dan tempelkan pada sel C2 sampai C5.

Menggunakan cara ini tidak akan ada cerita si Fulan nilainya tinggi karena bapaknya adalah pemilik kos, atau si Anu nilainya kecil karena Ibunya ga pernah bayar hutang.

Demikianlah. Semoga kita tidak sampai terbiasa menggunakan cara ini. Amin.